Nguri-uri Tradisi Leluhur, Selamatan Sumber Dusun Lebaksari Perkuat Identitas Desa Dayurejo

  • Jan 30, 2026
  • Jeje

 

Dayurejo —Di tengah arus modernisasi yang terus bergerak cepat, masyarakat Dusun Lebaksari, Desa Dayurejo, tetap teguh menjaga warisan budaya leluhur melalui Selamatan Sumber Mata Air yang dilaksanakan pada Jumat Pahing, 30 Januari 2026. Tradisi ini menjadi simbol nyata Jawa Pride, bahwa budaya lokal bukan sekadar masa lalu, tetapi napas kehidupan yang terus dijaga hingga hari ini.

Kegiatan selamatan sumber dilaksanakan di dua titik sumber mata air, yakni Sumber Sapen dan Tandon Air Sumber Alap-Alap yang berlokasi di kawasan Hortensia. Selamatan ini merupakan wujud rasa syukur kepada Allah SWT atas keberkahan air sebagai sumber kehidupan sekaligus ikhtiar masyarakat dalam menjaga kelestarian alam dan harmoni sosial.

Selamatan Sumber Sapen dan Tradisi Iber Pitik Wedok

Rangkaian kegiatan di Sumber Sapen dimulai pukul 07.30 WIB hingga selesai. Dalam prosesi ini, masyarakat membawa berbagai asahan sebagai simbol kebersamaan dan kelimpahan rezeki, di antaranya tumpeng wedok lan lanang lengkap dengan ayam panggang, dawet, nasi karak dengan ikan pedo, serta asahan nasi dan lauk dalam ember dari masyarakat RT 03 dan RT 04.

Salah satu prosesi yang menjadi ciri khas dan masih dilestarikan hingga kini adalah iber pitik wedok, yakni ritual melepas ayam betina putih di area sumber mata air. Tradisi ini mengandung makna filosofis tentang kesucian, keseimbangan alam, dan harapan agar sumber air tetap terjaga, bersih, dan membawa manfaat bagi seluruh warga. Prosesi ini menjadi penanda kuat bahwa Dusun Lebaksari masih memegang teguh nilai-nilai kearifan lokal warisan leluhur.

Kegiatan ini dihadiri oleh Perangkat Desa Dayurejo yang diwakili oleh Ibu Sekretaris Desa, Kepala Dusun Lebaksari, RT dan RW, LPMD, petugas Ulu-Ulu, tokoh masyarakat, tamu undangan, serta masyarakat RT 03 dan RT 04.

Selamatan Tandon Air Sumber Alap-Alap, Simbol Kebersamaan Warga Dusun

Rangkaian selamatan dilanjutkan di Tandon Air Sumber Alap-Alap pada pukul 08.00 WIB hingga selesai. Selamatan ini melibatkan seluruh warga Dusun Lebaksari dari RT 01 hingga RT 04, dengan membawa kupat dan lepet masing-masing sebanyak 44 biji, serta asahan dari seluruh warga sebagai bentuk partisipasi dan gotong royong.

Angka dan bentuk asahan yang dibawa bukan sekadar simbol, melainkan cerminan kesetaraan dan kebersamaan warga dalam menjaga sumber air yang menjadi kebutuhan bersama. Prosesi ini turut dihadiri oleh Perangkat Desa Dayurejo, Kepala Dusun Lebaksari, RT dan RW, LPMD, petugas Ulu-Ulu, tokoh masyarakat, serta seluruh lapisan masyarakat Dusun Lebaksari.

Doa Bersama dan Peneguhan Nilai Kearifan Lokal

Seluruh rangkaian kegiatan selamatan sumber   ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Ustadz Tajab. Doa dipanjatkan agar sumber mata air di Dusun Lebaksari senantiasa terjaga kelestariannya, membawa keberkahan, keselamatan, serta kesejahteraan bagi masyarakat Desa Dayurejo.

Melalui kegiatan selamatan sumber ini, Dusun Lebaksari tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga menegaskan jati diri Desa Dayurejo sebagai desa yang berakar pada budaya, menjunjung nilai gotong royong, serta selaras dengan alam. Tradisi ini menjadi kekuatan branding desa, bahwa Dayurejo adalah desa yang maju tanpa meninggalkan akar budaya leluhur.