Pengkajian Partisipatif Sektor Pengelolaan Sumber Mata Air di Desa Dayurejo
- Sep 15, 2024
- Jeje
Minggu, 15 September 2024 — Desa Dayurejo menjadi salah satu desa terpilih dalam program kolaboratif yang bertujuan untuk meningkatkan pengelolaan sumber mata air dan sanitasi sehat melalui program IWASH Tangguh dari USAID. Kegiatan ini dibuka dengan sambutan dari Pak Firman, perwakilan USAID, yang menyatakan pentingnya pendekatan partisipatif dalam mengelola sumber daya alam, terutama air, sebagai bagian dari upaya konservasi dan pengembangan berkelanjutan.
Program ini merupakan hasil kerja sama antara USAID melalui IWASH Tangguh, PT. Cargill, dan Yayasan Cempaka. Program IWASH Tangguh adalah inisiatif USAID yang bertujuan untuk memperbaiki akses masyarakat terhadap sanitasi dan air minum bersih, sementara PT. Cargill menyediakan pendanaan melalui program Corporate Social Responsibility (CSR). Yayasan Cempaka bertindak sebagai mitra lokal dalam pelaksanaan kegiatan di lapangan. Cargill sendiri telah mengalokasikan dana untuk lima desa dan kelurahan, termasuk Dayurejo, Sukolelo, Kelurahan Ledug, Kelurahan Prigen, dan Kelurahan Pecalukan.
Program IWASH Tangguh
Program IWASH Tangguh yang didanai oleh USAID berfokus pada tiga sektor utama: sanitasi, air minum aman, dan peningkatan akses masyarakat terhadap fasilitas sanitasi yang layak. Pak Firman dalam sambutannya menyatakan bahwa salah satu tantangan utama di desa-desa seperti Dayurejo adalah tingginya tingkat diare yang disebabkan oleh bakteri E. coli dari kontaminasi kotoran manusia yang sebagian masyarakat masih ada yang belum memiliki tempat pembuangan limbah ( tinja) secara layak. Oleh karena itu, program ini mendorong akses terhadap sanitasi yang sehat melalui pembangunan toilet (jamban) di rumah-rumah warga serta peningkatan sistem pengolahan limbah secara komunal (IPAL).
Dengan alokasi anggaran sekitar 2,5 hingga 5 juta rupiah per rumah tangga untuk pembangunan jamban, serta pendanaan untuk pengolahan limbah komunal, program ini berharap dapat mengurangi angka Open Defecation Free (ODF) dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui air bersih. Selain itu, desa-desa yang menjadi dampingan program ini dapat mengusulkan bantuan tambahan melalui mekanisme musyawarah perencanaan pembangunan (musrenbang), pokok pikiran (pokir) anggota dewan, atau Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT)maupun melalui Pendampingan Program IWASH.
Pendanaan dan Kolaborasi
Pendanaan dari PT. Cargill yang disalurkan melalui program CSR mencakup lima desa dan kelurahan di sekitar wilayah Dayurejo. Fokus dari kegiatan ini adalah pada konservasi sumber mata air yang menjadi kebutuhan vital bagi kehidupan masyarakat. Cargill bekerja sama dengan Yayasan Cempaka untuk memastikan bahwa dana tersebut dialokasikan dengan efektif untuk proyek-proyek yang akan memberi dampak jangka panjang bagi keberlanjutan sumber mata air di wilayah tersebut.
Salah satu langkah penting dalam pengelolaan sumber mata air ini adalah dengan mengadakan kajian partisipatif yang melibatkan masyarakat secara langsung. Kajian ini dilakukan dengan membagi kelompok diskusi berdasarkan wilayah atau dusun di Desa Dayurejo. Masing-masing dusun membahas masalah terkait pengelolaan dan konservasi sumber mata air, serta mencari solusi untuk permasalahan yang dihadapi.
Terdapat enam dusun di Desa Dayurejo yang ikut serta dalam diskusi ini. Kegiatan tersebut dihadiri oleh 50 partisipasi yang terdiri dari 25 orang laki-laki dan 25 orang perempuan. Pembagian ini dilakukan agar semua pandangan dari setiap kelompok dapat didengar dan diakomodasi, mengingat isu pengelolaan sumber air mempengaruhi seluruh elemen masyarakat, baik laki-laki maupun perempuan.
Konservasi dan Identifikasi Sumber Mata Air
Salah satu hasil dari diskusi tersebut adalah pentingnya identifikasi dan pemetaan sumber-sumber mata air yang ada di dalam dan di luar desa. Sumber Mata air di dalam desa Dayurejo serta di luar wilayah desa yang juga digunakan oleh masyarakat harus diidentifikasi secara detail untuk memastikan bahwa pengelolaannya dapat dilakukan dengan berkelanjutan.
Menurut hasil diskusi, konservasi mata air ini mencakup perlindungan terhadap sumber air dari polusi, pembangunan infrastruktur yang mendukung pemanfaatan air secara efisien, serta menjaga ekosistem di sekitar mata air agar tidak rusak. Selain itu, diusulkan pula agar program ini berkoordinasi dengan dinas terkait untuk mendapatkan dukungan tambahan, baik dalam bentuk dana maupun teknis.
Air Minum Aman
Tidak hanya masalah sanitasi yang menjadi perhatian, namun juga ketersediaan air minum yang aman. Sebagaimana yang disampaikan oleh perwakilan USAID, sekitar 90% tubuh manusia terdiri dari air, sehingga ketersediaan air bersih dan aman untuk diminum menjadi faktor krusial bagi kesehatan masyarakat. Sumber mata air yang teridentifikasi di Desa Dayurejo akan dijadikan sebagai sumber utama untuk memenuhi kebutuhan air minum warga desa, setelah dilakukan proses konservasi dan pemurnian.
Kesimpulan
Program IWASH Tangguh dari USAID, dengan dukungan PT. Cargill dan Yayasan Cempaka, menawarkan harapan baru bagi masyarakat Desa Dayurejo dan sekitarnya untuk mendapatkan akses yang lebih baik terhadap air bersih dan fasilitas sanitasi. Melalui pendekatan partisipatif dan konservasi mata air yang berkelanjutan, diharapkan kualitas hidup masyarakat dapat meningkat dan masalah-masalah kesehatan yang diakibatkan oleh air tercemar dapat ditekan.
Upaya ini juga menunjukkan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat dalam mengatasi permasalahan lingkungan dan kesehatan secara bersama-sama.