Rembuk Stunting 2025, Lanjutan Komitmen Menuju Zero Stunting
- Aug 08, 2025
- Jeje
Dayurejo, 8 Agustus 2025 – Komitmen Desa Dayurejo untuk mencetak generasi emas semakin nyata. Melalui kegiatan Rembuk Stunting Tingkat Desa bertema “Cetak Generasi Emas dan Bebaskan Keluarga dari Stunting”, seluruh elemen masyarakat bersatu untuk menguatkan langkah menuju Desa Dayurejo Bebas Stunting.
Kegiatan yang digelar di Balai Desa Dayurejo ini dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, dipimpin Ibu Tri Wahyuni. Hadir dalam kesempatan ini Kepala Desa Wahono, SPW, Ketua BPD, Camat Prigen Ivan Gunardi, SH, perwakilan Puskesmas Bulukandang, Ketua TP PKK, Bunda PAUD, Babinsa, Bhabinkamtibmas, perangkat desa, kader kesehatan, pendamping desa, tokoh masyarakat, serta perwakilan warga dari enam dusun.
Fokus pada Pencegahan dan Edukasi
Dalam sambutannya, Kepala Desa Wahono menegaskan bahwa penurunan angka stunting merupakan prioritas utama. Berdasarkan data, jumlah anak stunting di Dayurejo menurun dari 8 anak pada 2024 menjadi 6 anak pada 2025. “Dengan penduduk lebih dari 10.800 jiwa, penanganan stunting adalah tanggung jawab kita bersama. Kita ingin Dayurejo menjadi desa zero stunting,” ujarnya.
Senada, Ketua BPD mengapresiasi capaian tersebut dan menekankan pentingnya rembuk stunting sebagai forum sinergi. Sementara itu, Camat Prigen mengingatkan bahwa stunting seringkali berawal dari pernikahan usia dini, kurangnya perhatian gizi anak, dan rendahnya partisipasi masyarakat ke posyandu.
Paparan Data dan Penyebab Stunting
Kader KPM memaparkan bahwa Desa Dayurejo memiliki 7 posyandu aktif, 43 ibu hamil, dan 730 balita sasaran timbang (dengan capaian 708 balita tertimbang). Sarana kesehatan cukup memadai, mulai dari Puskesmas Bulukandang, Pustu di Dusun Gamoh, hingga fasilitas PAUD dan HIPPAM per dusun.
Narasumber dari Puskesmas Bulukandang, Ibu Tulus Wahyuni dan Bapak Andik Kurniawan, menjelaskan penyebab stunting meliputi pola asuh yang kurang optimal, kehamilan usia dini, kondisi ekonomi, jumlah anak yang banyak, serta rendahnya pemenuhan gizi terutama protein pada usia 0–2 tahun. Mereka juga menekankan peran PAUD dalam edukasi jajanan sehat dan stimulasi dini, serta pentingnya pelayanan posyandu yang lengkap.
Hasil Rembuk: Tiga Kesepakatan Penting
Dari diskusi kelompok yang melibatkan kader kesehatan, pendidik PAUD, dan perwakilan masyarakat, disepakati tiga langkah strategis:
-
Mengaktifkan kembali jadwal posyandu di setiap dusun dengan inovasi yang lebih menarik bagi warga.
-
Peningkatan sosialisasi tentang pencegahan pernikahan usia dini dan gizi keluarga melalui PKK, PAUD, dan karang taruna.
-
Memasukkan rencana tindak lanjut ini ke dalam RKPDes 2026 sebagai bentuk komitmen bersama.
Sarana dan Peralatan Mendukung
Desa Dayurejo telah memiliki sarana kesehatan memadai seperti timbangan bayi (baby scale), timbangan injak, dacin, alat ukur tinggi badan (microtoice), alat ukur panjang bayi (caliper), hingga 5 paket antropometri kit dari puskesmas. Pelayanan posyandu meliputi imunisasi, penimbangan, pengukuran tinggi badan, kelas ibu hamil, kelas balita, pemberian vitamin A dan obat cacing di bulan Februari dan Agustus, serta pemberian PMT.
Menutup dengan Harapan
Kegiatan ditutup dengan doa bersama, menguatkan semangat kolaborasi lintas sektor demi mewujudkan Desa Dayurejo Zero Stunting. Dengan dukungan penuh masyarakat, lembaga desa, dan tenaga kesehatan, Dayurejo optimis menjadi desa percontohan dalam penanganan stunting di Kabupaten Pasuruan.