Reorganisasi Persado( Persatuan Sepak Bola dayurejo) : Sepak Bola sebagai Jalan Pembinaan Karakter Anak Muda Dayurejo

  • May 07, 2025
  • Jeje

Dayurejo, 7 Mei 2025 — Semangat pembinaan sepak bola di Desa Dayurejo kembali digelorakan melalui kegiatan Reorganisasi PERSADO (Persatuan Sepak Bola Dayurejo) yang digelar di Balai Desa pada Rabu malam (7/5). Agenda ini bukan sekadar restrukturisasi organisasi, tetapi juga refleksi bersama atas peran vital sepak bola sebagai wahana pendidikan karakter bagi generasi muda desa.

Mengangkat Prestasi Menjadi Modal Pembangunan Jangka Panjang

Persado bukan nama baru di dunia sepak bola lokal. Sejumlah prestasi telah ditorehkan, di antaranya:

  • Juara 1 Piala Bupati

  • Juara 1 Piala Dandim

  • Juara 2 di berbagai turnamen lokal, termasuk Suwayuwo

Rekam jejak ini menjadi fondasi kuat untuk menyusun sistem pembinaan yang lebih berkelanjutan dan profesional, dengan tujuan melahirkan talenta asli Dayurejo yang tidak hanya unggul di lapangan, tapi juga berkarakter.

Kepengurusan Baru: Bukan Sekadar Jabatan, Tapi Tanggung Jawab

Dalam forum reorganisasi, disepakati bahwa struktur pengurus baru harus terdiri dari individu yang benar-benar memahami dunia sepak bola. Dibentuklah tim inti berjumlah 11 orang, mencerminkan filosofi satu kesatuan seperti tim dalam pertandingan. Kepengurusan ini diisi oleh:

  • Ketua I: Syaiful Anam

  • Ketua II: H. Nurul Efendi

  • Sekretaris: Akhmad Efendi

  • Bendahara I & II: H. Suhar dan Jalil

  • Seksi Keamanan, Dokumentasi, Perlengkapan, Humas, hingga Asisten Pelatih juga diisi tokoh-tokoh muda dan senior yang dikenal aktif di komunitas bola Dayurejo.

Tak hanya itu, sejumlah tokoh juga dipercaya sebagai penasehat, termasuk Kepala Desa Dayurejo dan H. Agus Kurniawan.

Etika Pembinaan dan Komitmen Lokalitas

Dalam upaya pembinaan, PERSADO menegaskan prinsip penting: tidak meminta nominal kepada donatur, melainkan mendorong kontribusi ikhlas demi kemajuan bersama. Selain itu, pembinaan dilakukan secara edukatif—mengandalkan contoh nyata, bukan sekadar teori. Latihan digelar rutin setiap Rabu malam, dengan harapan terlahirnya “bibit unggul” murni dari desa sendiri.

Prinsip lokalitas pun dijunjung tinggi. “Elek apik, tetep Dayurejo” menjadi semboyan bahwa baik atau buruknya pemain, mereka tetap bagian dari desa. Rekrutmen dari luar desa dihindari, demi menanamkan rasa bangga dan tanggung jawab terhadap potensi lokal.

Langkah Nyata: Seleksi, Pelatihan, dan Jaringan

Sebagai bentuk keseriusan, empat orang telah dikirim ke Kecamatan Prigen untuk memperluas wawasan pembinaan. Sistem pendaftaran dan seleksi juga dibuka sebagai upaya regenerasi. Hasilnya, telah ada pemain Dayurejo yang lolos seleksi tingkat kecamatan—sebuah bukti bahwa metode pembinaan mulai menunjukkan hasil.

Kendala Lapangan dan Upaya Penanganannya

Tantangan utama masih seputar akses dan kondisi lapangan, khususnya koordinasi dengan pihak Kaliandra dan pemanfaatan Lapangan Dayurejo-Jatiarjo. Meski demikian, solusi jangka pendek seperti sistem tambal sulam dan regenerasi pengurus akan terus diupayakan demi menjaga keberlangsungan latihan dan program pembinaan.

Sepak Bola: Lebih dari Sekadar Permainan

Dalam penutupan acara, disampaikan pesan mendalam: sepak bola bukan hanya tentang menang dan kalah, tapi media pendidikan karakter. Anak-anak muda yang terlibat dalam latihan dan pertandingan tidak hanya belajar taktik, tetapi juga nilai-nilai hidup seperti kerja sama, disiplin, etika, dan rasa hormat.

Donatur dan Dukungan Stakeholder

Dukungan dari berbagai pihak terus mengalir, baik dari dunia usaha seperti Aneka Logistik, GCE Mart, Randu Jaya, maupun dari tokoh masyarakat dan pemerintah desa. Peran mereka bukan hanya finansial, tetapi juga moral dan sosial.


Harapan ke Depan

Dengan struktur kepengurusan yang baru, semangat kolektif, dan fondasi prestasi yang telah terbukti, PERSADO diharapkan tidak hanya menjadi kebanggaan warga Dayurejo, tapi juga menjadi pabrik karakter—melahirkan pemain-pemain tangguh yang siap bersaing secara teknik, namun tetap rendah hati dan berintegritas dalam kehidupan.

Dayurejo, 7 Mei 2025 — Semangat pembinaan sepak bola di Desa Dayurejo kembali digelorakan melalui kegiatan Reorganisasi PERSADO (Persatuan Sepak Bola Dayurejo) yang digelar di Balai Desa pada Rabu malam (7/5). Agenda ini bukan sekadar restrukturisasi organisasi, tetapi juga refleksi bersama atas peran vital sepak bola sebagai wahana pendidikan karakter bagi generasi muda desa.

Mengangkat Prestasi Menjadi Modal Pembangunan Jangka Panjang

Persado bukan nama baru di dunia sepak bola lokal. Sejumlah prestasi telah ditorehkan, di antaranya:

  • Juara 1 Piala Bupati

  • Juara 1 Piala Dandim

  • Juara 2 di berbagai turnamen lokal, termasuk Suwayuwo

Rekam jejak ini menjadi fondasi kuat untuk menyusun sistem pembinaan yang lebih berkelanjutan dan profesional, dengan tujuan melahirkan talenta asli Dayurejo yang tidak hanya unggul di lapangan, tapi juga berkarakter.

Kepengurusan Baru: Bukan Sekadar Jabatan, Tapi Tanggung Jawab

Dalam forum reorganisasi, disepakati bahwa struktur pengurus baru harus terdiri dari individu yang benar-benar memahami dunia sepak bola. Dibentuklah tim inti berjumlah 11 orang, mencerminkan filosofi satu kesatuan seperti tim dalam pertandingan. Kepengurusan ini diisi oleh:

  • Ketua I: Syaiful Anam

  • Ketua II: H. Nurul Efendi

  • Sekretaris: Akhmad Efendi

  • Bendahara I & II: H. Suhar dan Jalil

  • Seksi Keamanan, Dokumentasi, Perlengkapan, Humas, hingga Asisten Pelatih juga diisi tokoh-tokoh muda dan senior yang dikenal aktif di komunitas bola Dayurejo.

Tak hanya itu, sejumlah tokoh juga dipercaya sebagai penasehat, termasuk Kepala Desa Dayurejo dan H. Agus Kurniawan.

Etika Pembinaan dan Komitmen Lokalitas

Dalam upaya pembinaan, PERSADO menegaskan prinsip penting: tidak meminta nominal kepada donatur, melainkan mendorong kontribusi ikhlas demi kemajuan bersama. Selain itu, pembinaan dilakukan secara edukatif—mengandalkan contoh nyata, bukan sekadar teori. Latihan digelar rutin setiap Rabu malam, dengan harapan terlahirnya “bibit unggul” murni dari desa sendiri.

Prinsip lokalitas pun dijunjung tinggi. “Elek apik, tetep Dayurejo” menjadi semboyan bahwa baik atau buruknya pemain, mereka tetap bagian dari desa. Rekrutmen dari luar desa dihindari, demi menanamkan rasa bangga dan tanggung jawab terhadap potensi lokal.

Langkah Nyata: Seleksi, Pelatihan, dan Jaringan

Sebagai bentuk keseriusan, empat orang telah dikirim ke Kecamatan Prigen untuk memperluas wawasan pembinaan. Sistem pendaftaran dan seleksi juga dibuka sebagai upaya regenerasi. Hasilnya, telah ada pemain Dayurejo yang lolos seleksi tingkat kecamatan—sebuah bukti bahwa metode pembinaan mulai menunjukkan hasil.

Kendala Lapangan dan Upaya Penanganannya

Tantangan utama masih seputar akses dan kondisi lapangan, khususnya koordinasi dengan pihak Kaliandra dan pemanfaatan Lapangan Dayurejo-Jatiarjo. Meski demikian, solusi jangka pendek seperti sistem tambal sulam dan regenerasi pengurus akan terus diupayakan demi menjaga keberlangsungan latihan dan program pembinaan.

Sepak Bola: Lebih dari Sekadar Permainan

Dalam penutupan acara, disampaikan pesan mendalam: sepak bola bukan hanya tentang menang dan kalah, tapi media pendidikan karakter. Anak-anak muda yang terlibat dalam latihan dan pertandingan tidak hanya belajar taktik, tetapi juga nilai-nilai hidup seperti kerja sama, disiplin, etika, dan rasa hormat.

Donatur dan Dukungan Stakeholder

Dukungan dari berbagai pihak terus mengalir, baik dari dunia usaha seperti Aneka Logistik, GCE Mart, Randu Jaya, maupun dari tokoh masyarakat dan pemerintah desa. Peran mereka bukan hanya finansial, tetapi juga moral dan sosial.


Harapan ke Depan

Dengan struktur kepengurusan yang baru, semangat kolektif, dan fondasi prestasi yang telah terbukti, PERSADO diharapkan tidak hanya menjadi kebanggaan warga Dayurejo, tapi juga memiliki karakter—melahirkan pemain-pemain tangguh yang siap bersaing secara teknik, namun tetap rendah hati dan berintegritas dalam kehidupan.