Selametan Malam Jumat Legi di Desa Dayurejo: Tradisi yang Menghormati Leluhur dan Mempererat Kebersamaan
- Nov 14, 2024
- Jeje
Di Desa Dayurejo, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, setiap satu bulan sekali pada setiap hari kamis menjelang hari Jumat dengan pasaran Legi, masyarakat setempat melaksanakan sebuah tradisi yang telah berlangsung turun-temurun, yaitu Selametan malam Jumat Legi. Tradisi ini tidak hanya menjadi sarana untuk mengenang para leluhur, tetapi juga menjadi momen untuk mempererat kebersamaan antarwarga desa. Dalam tradisi ini, ada berbagai rangkaian kegiatan dan kebiasaan yang melibatkan sesaji, ziarah makam, dan selametan jajan pasar, yang semuanya memiliki makna mendalam dalam kehidupan sosial dan spiritual masyarakat Dayurejo.
Penyediaan Among untuk Arwah Leluhur
Salah satu rangkaian tradisi yang paling khas dalam Selametan Jumat Legi adalah penyediaan among atau sesaji untuk arwah leluhur. Sesaji ini terdiri dari berbagai macam makanan tradisional seperti nasi, lauk-pauk, dan jajanan pasar yang diletakkan di tempat khusus, biasanya di balai desa atau di setiap rumah warga. Bagi masyarakat Dayurejo, Jumat Legi dipercaya sebagai hari ketika arwah orang yang sudah meninggal kembali ke dunia. Oleh karena itu, mereka menyediakan sesaji sebagai bentuk penghormatan dan doa agar arwah leluhur diberkahi dan tenang di alam yang abadi.
Among yang disajikan juga bervariasi, tergantung pada kemampuan dan kebiasaan keluarga. Selain nasi, lauk-pauk, dan jajanan, sesaji juga bisa berupa buah-buahan atau minuman tertentu yang dianggap memiliki makna simbolis, yang mana biasanya makanan favorit atau makanan yang biasa dimakan oleh mereka yang sudah meninggal semasa hidup. Semua makanan tersebut dipercaya akan diterima oleh arwah leluhur yang datang pada hari tersebut.
Ziarah Makam di Sore Hari
Tradisi dan kebiasaan berikutnya yang dilakukan oleh masyarakat Desa Dayurejo adalah ziarah makam pada sore hari. Ziarah ini dilakukan untuk mendoakan arwah leluhur yang telah meninggal, serta untuk membersihkan makam mereka. Pada sore hari, keluarga atau warga yang memiliki hubungan dengan sanak saudara yang sudah meninggal akan berkumpul untuk berziarah, membaca doa, dan menabur bunga dimakam sebagai bentuk penghormatan.
Masyarakat Dayurejo meyakini bahwa ziarah makam ini dapat memberikan kedamaian bagi arwah leluhur. Selain itu, kegiatan ini juga merupakan kesempatan untuk mengenang jasa-jasa para pendahulu desa, serta untuk mempererat hubungan antaranggota keluarga. Tak jarang, ziarah makam juga menjadi ajang bagi keluarga untuk berkumpul, mengenang masa lalu, dan berbagi cerita tentang leluhur mereka. Ziarah ini menjadi simbol penghormatan dan rasa terima kasih atas segala jasa yang telah diberikan oleh para leluhur dalam membangun kehidupan masyarakat Dayurejo.
Selametan Jajan Pasar Setelah Maghrib
Setelah ziarah makam, rangkaian terakhir dalam Selametan Malam Jumat Legi adalah selametan jajan pasar yang biasanya dilaksanakan setelah salat Maghrib. Di malam hari ini, masyarakat Desa Dayurejo mengadakan acara doa bersama dengan menyajikan berbagai jajanan pasar tradisional dan kue-kue lainnya. Jajanan ini tidak hanya untuk disantap bersama keluarga, tetapi juga untuk dibagikan kepada tetangga sebagai bentuk saling berbagi.
Makna Sosial dan Spiritual dalam Selametan Malam Jumat Legi
Selametan Malam Jumat Legi di Desa Dayurejo bukan hanya sekadar ritual keagamaan, tetapi juga merupakan bentuk nilai sosial yang memperkuat hubungan antaranggota masyarakat. Dalam tradisi ini, warga desa belajar untuk saling berbagi, menghormati leluhur, dan menjaga kebersamaan. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi ajang untuk mengingat kembali nilai-nilai kearifan lokal yang diajarkan oleh nenek moyang.
Di tengah perkembangan zaman yang semakin modern, masyarakat Desa Dayurejo tetap melestarikan tradisi ini sebagai bagian dari identitas budaya mereka. Selametan Malam Jumat Legi mengajarkan pentingnya menjaga hubungan dengan leluhur serta memperkuat hubungan sosial di antara sesama warga. Di samping itu, tradisi ini juga mencerminkan betapa dalamnya rasa syukur dan penghormatan masyarakat Dayurejo terhadap kehidupan dan alam sekitar.
Dengan tetap mempertahankan tradisi ini, masyarakat Desa Dayurejo tidak hanya menjaga kearifan lokal, tetapi juga membuktikan bahwa meskipun dunia terus berubah, kebersamaan dan rasa hormat terhadap leluhur tetap menjadi nilai yang sangat dihargai dalam kehidupan mereka. Selametan Jumat Legi menjadi contoh nyata bagaimana tradisi lokal dapat bertahan dan tetap relevan dalam kehidupan masyarakat modern.